BAB 1 “YOUNG
SECURITY”
Akhir-akhir
ini banyak kabar miring yang beredar tentang sekolahku, SMA 7 General. Banyak
isu yang mengatakan kalau ada penjahat yang menyamar menjadi siswa di sini.
Lalu ada juga yang bilang kalau ada BOM di sekolahku ini dan masih banyak lagi.
Semua ini membuat aktifitas belajar mengajar menjadi kocar-kacir tidak karuan.
Membuat anak-anak yang membandel jadi bersuka cita karena kepanikan dan kelebaiyan
para guru dan muridnya sendiri. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu suka
dengan keadaan seperti ini. Bagaimana tidak? Susah-susah aku masuk ke sekolah
ini dengan perjuangan panjang dan penuh rintangan. Belum juga genap satu
semester aku senang disini, muncul banyak gosip aneh yang menyusahkan. Aku
benci penyebar gosip seperti orang yang menyebar gosip tentang sekolah
tercintaku ini. Payah.
Bukan
itu saja yang menyita perhatianku. Namun ada yang lebih menarik dari semua itu.
Ini menyangkut perasaan wanita. Dalam kehebohan besar yang melanda sekolahku
malah muncul seorang security baru yang menyegarkan mata. Seorang pria muda
dengan badan atletis nan gagah perkasa menjelma menjadi satpam baru di
sekolahku. Wajahnya yang tampan langsung mengundang banyak pasang mata tertuju
padanya. Auranya yang gentlemen sudah mengalahkan para artis boyband korea.
Aku juga gadis normal yang tahu cowok
ganteng di depanku ini. Baru kali ini ada security muda di sekolah.
“Andiii!!!!”
Aku
oleng disambar angin dari para gadis yang berlari ke arah Andi, security muda
yang menggugah selera. Dia menjadi artis dadakan. Huft.
“Andi
tolong dong!!!”
“Tadi
aku melihat sesuatu di toilet cewek!”
“Ah..iya
iya.” Andi menanggapi dengan santai.
Aku
hanya bisa melihat dari jauh saja. Sejak dia jadi security baru di sini
gosip-gosip itu mulai agak mereda. Tapi tetap saja sekolah dalam kondisi
waspada. Masih ada polisi yang datang berkunjung tiap harinya.
Aku
segera berjalan pelan masuk kelasku. Ya aku mungkin agak sedikit merasakan
kecewa karena aku sama sekali tidak bisa bicara dengan Andi. Padahal aku juga
mau seperti gadis-gadis itu yang bisa dengan terang-terangan datang dan
mengagumi Andi. Tapi aku tidak bisa jadi seperti mereka. Aku harus konsentrasi
pada sekolahku yang kacau ini. Tapi aku memikirkannya.
“Kok
bisa sih security baru itu mengalihkan dunia.” Anak-anak cowok di kelas
sekarang giliran menggosip.
“Ya,
gimana lagi dia kan keren.”
“Tapi
masak cewek-cewek ngefans sama dia semua. Kita kan jadi tergeser. Bahkan cewek
yang kutaksir pun nyangkut digerombolan fannya.”
“Kalau
begini kita tidak boleh membiarkannya. Kita beri peringatan padanya.”
“Ya
ya.”
Kenapa
situasinya jadi seperti akan melakukan demo saja. Aku hanya bisa geleng-geleng.
Bisa-bisanya mereka melupakan gosip BOM yang akan meledak dua minggu lagi itu.
Ternyata awalnya saja mereka heboh dan panik pada BOM itu.
“Mereka
semua jadi gila karena Andi.” Martha tertawa kecil.
“Demam
Andi.” Timpalku.
“Kamu
gak ikutan jadi fan Andi, Mit?” tanya Martha.
“Kamu
sendiri?” aku mengalihkan pembicaraan. Martha pasti akan menertawakanku kalau
kubilang aku naksir Andi juga.
“Aku
kan sudah punya pacar jadi tidak mungkin. Kalau kamu tidak apa-apa kan masih
jomblo. Lumayan dia kan oke punya.” Ujar Martha.
“.....”
aku senyum saja.
Lagi-lagi
KBM tidak efektif. Aku benci kalau begini. Dasar BOM sialan.
“Kenapa
sekolah jadi seperti kebun binatang begini?” aku mengamati anak-anak yang
berkeliaran disaat seharusnya jam pelajaran.
“Jadi
binatangnya bisa ngomong ya?”
Aku
menoleh. Siapa gerangan yang mendengar unek-unekku.
“Hah?!”
aku terperanjat.
“Halo!”
sapanya.”Ternyata kamu termasuk binatang yang pintar ya mau ke perpustakaan.”
Ujar Andi.
Aku
menjadi kaku-kaku. Bukan karena aku dibilang binatang tapi karena Andi. Dia
bicara padaku. Tanpa aku harus bergerombol menyerbunya di pos depan.
“Kenapa
diam saja? Kau marah ya?” ujar Andi lagi.
“Ah,
apa?” aku tersadar.”Kau kan harus berjaga kenapa malah ada di perpus?” ujarku
dengan nada kesal padahal aku senang sekali bisa bicara dengan Andi.
“Sttsst.
Jangan keras-keras! Kalau ketahuan nanti aku dimarahi Pak Hamdan.”
“Jadi
kau sedang bolos kerja ya?” ujarku tambah keras.
Andi
membungkam mulutku.
“Diamlah
anak manis. Aku tidak sedang bolos. Kalau kau diam aku akan memberimu permen.
Aduh..”
Aku
menggigit jari Andi.
“Permen
katamu? Aku ini sudah besar aku tidak level dengan permen.” Aku mengancam
“Dasar
anak ini. Dia gigit pakai taring apa ya.” Batin Andi kesakitan.
“Daripada
kau bolos kerja lebih baik bantu para polisi untuk menemukan Bom sialan itu
agar aku bisa cepat belajar seperti sedia kala.” Ujarku dengan ekspresi kecewa
padahal dalam hati aku senang bisa begini dengan Andi.
Andi
tidak membalas perkataanku. Dia terdiam. Mungkin dia menyadari kesalahannya.
“Maaf
ya aku memang hanya security.” Andi nampak lesu.
“Aku
sudah keterlaluan.” Batinku agak menyesal. Tapi beda sekali dengan ucapan
mulutku, “Dasar security tidak berguna. Kerjanya sama sekali tidak becus. Tiap
hari hanya menggoda para siswi. Kesana kemari memamerkan tampang! Kau kan bukan
artis!”
Entah
bagaimana aku bisa merangkai kata-kata sekejam itu. Tak kusangka bisa-bisanya
hati dan mulutku bicara berlainan. Ah sudahlah mungkin aku terlalu senang
dengan semua ini. Pada dasarnya aku memang payah dalam hal beginian.
Aku
mengambil tasku dan segera meninggalkan Andi yang masih terdiam terpaku sambil
memandang kepergianku.
“Drztt
Drztt Drztt Drztt.” Andi mengambil hp di saku celananya. Dilihat siapa yang
memanggil dan diangkatnya dengan malas.
“Andiiiiii!!!!”
suara dari seberang sana yang menelpon. Andi menjauhkan hp dari telinganya.
“Tidak
perlu berteriak-teriak kan?” ujar Andi.
“Bagaimana
aku tidak teriak-teriak. Kau sama sekali tidak melapor perkembangan
penyelidikan ini. Waktumu tidak banyak disitu. Segera temukan dan hancurkan.
Keselamatan semua tergantung padamu dan juga nama baik lembaga kita.”
“Tut
Tut Tut Tut Tut Tut.”
Andi
tidak bereaksi apa-apa. Dia menghela nafas sambil memasukkan kembali hpnya ke
dalam saku celananya.
“Apanya
yang mau ditemukan. Belum ada apa-apa disini.”gumam Andi sendiri.
Aku
menyesal. Aku menyesal. Aku menyesal. Ribuan kalipun aku mengatakannya itu
tidak akan mengubah apa yang sudah kulontarkan pada Andi di perpus tadi. Kesan
pertama yang sangat buruk. Aku tidak mau membayangkan kesan kedua. Aku juga
terlalu berlebihan kenapa malah marah pada security sekolah. Mencari Bom itu
kan tugas para polisi dan teman-temannya. Sebaiknya kulupakan saja semua.
Pulang saja.
Keesokan
paginya aku tidak berani lewat gerbang depan. Aku tidak mau melihat ataupun
terlihat oleh Andi. Meski awalnya juga aku tidak bisa kelihatan olehnya.
Sekali-kali aku mau menjadi murid nakal saja. Kayaknya asik juga kalau melompat
pagar.
Aku
tengak-tengok kanan kiri. Aman. Aku
langsung melempar tasku duluan. Kemudian aku segera naik pagar tembok yang
tidak terlalu tinggi ini.
“Huft.”
Aku mendarat dengan aman. “Lumayan juga untuk pemula seperti aku.”
“Ya
lumayan juga. Merah jambu!”
“Apa?!”
aku menoleh dan sudah ada Andi yang berdiri sambil menenteng tasku. Aku
berkeringat dingin. Dia juga bilang merah jambu. Kurang ajar dia melihatnya.
“Tidak
bisa lewat jalan biasa ya? Tidak pernah sekolah ya?”
“Sial
aku tidak bisa membalasnya.” Batinku menggerutu. Aku menggigit bibirku sambil
melototi Andi.
“Diam
artinya benar.” andi tersenyum licik. Dia membalasku. Niatku mau menghindarinya
malah ketemu di sini.
“Itu
urusanku. Jangan menceramahiku! Kembalikan tasku!” mintaku.
“Tidak
akan kukembalikan. Lagipula disaat sekolahmu sedang bahaya begini seharusnya
kau belajar dengan baik dan berusaha tetap pada jalan yang benar. bagaimana
kalau ini terakhir kalinya kau belajar di sekolahmu ini.”
“Kalau
itu yang terjadi maka orang pertama yang perlu disalahkan adalah kau!” aku
berlari kearah Andi. Aku pakai cara kasar saja. Aku mengepalkan tanganku. Aku
akan memukulnya dengan kuat.
“Eh?”
Andi menangkap tanganku.”Gadis kecil mau melawan Security.” Andi menahan
tanganku ke balik badanku.
“Aw
aw aw..” aku meringis kesakitan.
“Belajar
sopan santun itu lebih baik untukmu.” Ujarnya berbisik di dekat telingaku.
Aku
tidak pernah menduga akan terjadi hal seperti ini. Aku langsung lemas begitu
Andi melepaskan tanganku. Aku terduduk dirumput-rumput sambil membisu.
“Dah
Mita. Akan kubawakan bom itu khusus untukmu.” Andi tersenyum sembari
meninggalkanku.
Dia
gentleman. Dia memegang tanganku. Berbisik ditelingaku. Ini kepahitan awal yang
indah. Meski Andi berpikir buruk tentangku.
“Huft
payah.” Aku mengambil tasku. Tidak kusangka dia tahu namaku.“Eh?” aku menemukan
sesuatu dibawah tasku. Dompet. Aku tolah toleh tidak ada orang. Mungkin dompet
Andi. Aku tersenyum usil dan tanganku mulai membuka dompet itu. Pelan-pelan.
to be continued......
0 Response to "Love Security"
Posting Komentar