Latest Updates

Love Security

Love Security

BAB 2 “TRUE IDENTITY”
“Ah..” aku tersenyum kecut begitu melihat tanda identitas diri dalan dompet Andi. Ada foto Andi disitu. Dan juga lencana ‘polisi’. Andi Sheet. Jabatan: Inspektur Polisi
“Dia detektif...” aku diam sambil memandangi foto Andi. Lahir tahun 1985. Kenapa aku malah melihat tahun kelahirannya? Dia kan hanya Security yang lagi ngetrend di sekolahku yang kacau ini. Tidak mungkin.
Andi merogoh sakunya. Dia agak bingung karena tidak menemukan yang dia cari. Dia mencari disemua lubang sakunya.
“Kenapa Andi?” tanya Pak Hendro seorang senior security di sekolahku.
“Dompetku tidak ada pak.” Andi kelihatan tegang dan bingung.
“Hilang ya? Wah bahaya itu. Gawat kalau duitmu banyak dan ditemukan anak-anak. Pasti diambil ludes sama mereka.” Ujar Pak Hendro.
“Masa sekolah elit begini masih doyan sama dompet jatuh? Tapi bukan itu yang aku khawatirkan.” Andi teringat sesuatu yang terjadi barusan. “Mungkin jatuh disana.” Andi langsung berlari dengan cepat.
“Oh sudah ingat ya.” Gumam Pak Hendro santai.
Aku tersadar dari lamunanku begitu merasakan langkah kaki yang berlari ke arahku. Aku menutup dompet Andi sambil menghela nafas. Sebaiknya apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Gawat.” Gumam Andi dengan nafas terengal-sengal.”Mita!” Andi menegurku.
“Iya.” Jawabku spontan.”Darimana kau tahu namaku?” tanyaku dengan nada datar.
“Kau melihat dompetku?” tanya Andi tanpa menjawab pertanyaanku.
“Iya.” Aku segera berdiri dan menghampiri Andi. Aku menyodorkan dompet Andi.
Andi menerimanya.
“Aku yakin kau sudah melihatnya. Jadi bisakah kau merahasiakan ini dari siapapun?”
“Iya aku sudah melihatnya. Fotomu waktu muda lumayan juga.” Aku masih datar-datar saja tanpa emosi.
“Maksudku bukan itu.” Andi nampak kesal.
“Iya aku tahu.” Jawabku dengan nada yang sama.
“Sebaiknya kau jangan pura-pura bodoh Mita. Apapun yang kau lakukan sekarang menjadi ancaman bagiku. Dan juga itu akan berbahaya bagimu karena sudah mengetahui identitasku. Atau kau ingin pura-pura tidak tahu. Itu juga boleh kalau itu lebih baik.” Andi sepertinya tidak suka dengan sikapku.
Aku tidak percaya aku mengetahui rahasia si security sekolah. Padahal kemarin aku hampir putus asa karena sejengkal pun tak bisa mendekat padanya. Lalu kejadian ajaib ini terjadi padaku. Tuhan tahu mana hambanya yang butuh pertolongan. Ini adalah rahasia yang manis. Tapi aku tidak boleh lengah. Aku akan tetap jadi Mita yang kemarin marah-marah padanya. Aku juga hampir tidak percaya Andi tahu namaku. Ini sangat luar biasa.
“Tapi untuk apa ya Andi menyamar jadi security segala? Apa untuk mencari bom itu? Apapun itu dia sangat keren dan hanya aku yang tahu identitas aslinya. Aku akan semakin dekat dengan Andi. Duh senangnya aku.” Aku cengengesan sambil membayangkan hari-hari menyenangkan bersama Andi.
“Tidak biasanya kamu cuek pada pelajaran yang agak full ini, Mit?” tanya Martha heran.
“Iya aku agak sedang hehe.” Aku tidak mau memberitahu Martha sebab musabab yang terjadi padaku.
“Apa?” Martha melihat dengan tambah heran.
“Aku sedang senang.” Jawabku sambil senyum-senyum.
“Sekolah kita akan kena bom kamu malah senang? Padahal kemarin saja kamu sangat prihatin pada sekolah kita. Nanti sore ada pengajian lho di sekolah. Jangan sampai enggak datang.” Ujar Martha.
“Gawat juga kalau pas kita doa bersama bomnya meledak.” Aku menakut-nakuti Martha.
“Kok doamu tidak mengenakkan perasaan sih.” Martha cemberut.”Pokoknya nanti kamu harus datang ya.”
“Iya aku tahu. Kan aku pengen bom itu cepat musnah.” Ujarku.
Beda dengan bayanganku yang berharap akan semakin dekat dengan Andi setelah aku mengetahui identitas Andi. Sekarang aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya. Bahkan dia tidak bingung karena aku tahu identitasnya. Biasanya kalau difilm-film dia akan mengancamku macam-macam kan? Tapi kok yang ini beda sekali. Bahkan sampai pulang sekolah pun dia tidak kelihatan.
“Leatin apa sih? Buruan pulang.” Martha menarik tudung jaketku.
“Aduh iya iya.” Aku terpaksa meninggalkan gerbang sekolah. Aku harap Andi ada disitu dan melihatku. Aku sebal dia tidak takut aku membocorkan rahasianya.
Jam lima sore aku sampai di sekolah. Halaman sekolah nampak sepi-sepi saja. Tidak ada seorang muridpun yang berada disekolah ini. Anak-anak kok bisa sih mengabaikan acara pengajian ini. Ya ampun padahal pak ustad sudah siap sedia.
“Masa yang peduli pada nasib sekolah ini hanya aku seorang sih? Martha juga tidak kelihatan.” Aku berjalan ke pos security.
“Rajin sekali sudah datang.”
Aku tidak jadi masuk pos security. Aku membalikkan badan.
“Mencariku ya?” Andi sudah berdiri di depanku.
“Pede sekali.” Aku berjalan melewati Andi.
“Mau bicara denganku. Sepertinya kau bisa jadi partner yang bagus meski sebenarnya itu tidak perlu.” Andi mempermainkanku.
Aku tidak marah. Aku senang bisa bicara dengan Andi lagi.
“Sebaiknya daripada bicara tidak karuan, segeralah temukan bom itu. Tidak perlu lama-lama cosplay di sini.” Aku melirik Andi.
“Merah jambu yang bawel.” Ujar Andi pelan,”Waktu aku muda aku tidak sebawel dirimu. Cosplay katanya. Haha.” Andi senyum-senyum sendiri.
“Kenapa kau tidak mengancam ku untuk tidak menyebarkan identitasmu, Andi?”
“Itu tidak perlu. Karena gadis yang pintar tahu apa yang sebaiknya dilakukan saat seperti ini. Kamu gadis yang pintar kan?”
“Tentu saja.” Aku segera beranjak pergi.
“Manis juga anak itu dengan kerudung merah jambunya. Kasihan sekolahnya harus jadi ladang ranjau.” Gumam Andi sambil mengamati jalanku.
Aku mengambil duduk paling depan. Bebas memilih karena belum seorang pun yang datang. Aku kecewa pada teman-temanku.
“Huft.” Seorang gadis mengambil duduk disebelahku. Dia menepuk bahuku.
“Martha? Kukira kau tidak datang juga.” Ujarku. Martha cantik memakai kerudung biru muda.
“Aku kan peduli dengan sekolah kita. Kalaupun bom itu akan diledakkan hari ini dan kita yang ada disini akan mati. Aku tidak akan menyesal. Setidaknya Tuhan tahu aku mati dalam keadaan yang bersih.”
“Jangan-jangan anak-anak tidak mau datang karena mereka takut bom itu akan diledakkan saat kita pengajian ya?” simpulku.
“Ya mau gimana lagi, mereka semua pengecut kan?” Martha meluruskan kakinya.
“Benar juga. Polisi-polisi itu juga sama sekali tidak membantu. Percuma mereka hanya jalan-jalan saja.” Timpalku.
“Sebegitu bencinya sama polisi ya?”
Andi duduk disebelahku. Dia senyum-senyum dengan santai.
“Heh,Mit.” Martha menarik kerudungku. Dia berbisik ditelingaku.”Sejak kapan kau akrab dengan Andi? Jangan-jangan kalian..”
“Tidak seperti bayanganmu Martha.” Balasku berbisik juga.
“Kalian berbisik membicarakanku ya? Apa kalian malu duduk dengan security?” tanya Andi.
“Ah, tidak bukan begitu.” Aku dengan reflek membantah ucapannya. Dasar bodoh tentu saja aku senang akhirnya kau mau dekat denganku.
“Hm..”
“Hei Andi!” seru Martha.
“Ya?”
“Kau kan masih muda, kenapa malah jadi security?” tanya Martha.
“Karena aku ingin.”
“Dasar pembohong. Kau kan sedang menyamar.” Batinku ikut menjawab.
“Kau kan keren. Lebih cocok jadi model saja. Atau jadi polisi saja.” Ujar Martha.
“Ya boleh juga. Tuh teman-teman kalian sudah datang. Aku harus pergi.” Andi berdiri dan segera pergi.
“Ternyata kau memang suka padanya ya.” Ujar Martha membuyarkan pandanganku ke Andi.
“Sepertinya sedikit benar. Tapi juga sedikit salah. Lupakan itu. Aku akan berdoa dengan sungguh-sungguh.” Aku mengalihkan pembicaraan.
Setelah magrib baru pengajiannya dimulai. Padahal aku sudah dari jam lima disini dengan Martha. Ternyata bukannya anak-anak yang pengecut tapi karena jam terbangnya jam 6. Tapi meski begitu tetap saja yang datang cuma sedikit.
Ditengah-tengah acara aku kebelet pipis. Aku segera keluar dari barisan dan berlari kecil ke toilet. Mana lumayan gelap lagi.
“Ah lega.” Aku membenarkan kerudungku di depan cermin. Sayup-sayup kudengar ada yang bicara diluar toilet. Aku mengendap-endap melihat siapa.
“Cuma sedikit yang datang. Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat. Hanya tinggal pencet saja kan? iya iya. Biarkan saja mereka terus mencari. Haha benar-benar.”
Aku melihat seorang laki-laki yang membelakangiku sedang menelpon. Apa dia penjahatnya? Didengar dari percakapannya sepertinya dia membicarakan soal bom. Aku merinding. Gawat ini gawat. Aku harus memberitahu Andi.
“...benar sekali. Aku juga setuju dengan itu. Aku jadi penasaran berapa banyak yang akan mati dalam tragedi ini. Uji coba ini lumayan menyakitkan ya.”
Apa? Teriakku dalam batin. Kejam sekali orang itu. Kalau saja aku bisa melihat wajahnya. Mungkin aku harus lebih dekat.
“Jangan.” Seseorang menarik tanganku.
“Andi?” aku tidak jadi melangkah. Tiba-tiba Andi sudah di sini. Inikan toilet cewek.
“Ayo pergi!” ajak Andi.
Andi membawaku ke kelas depan lab.Fisika. jauh dari toilet dan juga lapangan tempat pengajian yang sedang berlangsung. Andi agak tegang kelihatannya. Aku tidak berani memulai pembicaraan.
“Mita.” Andi memanggilku.
“I,iya.” Aku agak terkejut.
“Apa kau mengenali orang tadi?” tanya Andi.
“Aku hanya melihat punggungnya saja. Kalau melihat bajunya sih kayaknya dia pakai jaket hitam. Lagipula tadi kan gelap.” Jawabku.
“Ini sangat gawat. Dia sudah lama diantara kalian semua. Sulit mencari tahu keberadaannya kalau Cuma lihat punggungnya.” Ujar Andi.
“Ya cari saja orang yang pakai jaket hitam malam ini. Aku akan bantu mencarinya. Lagipula aku sedikit mengenali suaranya.” Ujarku.
“Ide yang bagus. Kemarikan hapemu!”
“Apa?HP?” aku terkejut lagi. Tapi aku segera mengeluarkan hpku dan kuserahkan pada Andi.
Andi mengutak-atik hpku.
“Ini nomorku. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.” Andi mengembalikan hpku.
“A,a baik.” Aku gemetaran memegang hpku. Aku mendapatkan no hp Andi tanpa aku yang memintanya. Keajaiban yang luar biasa. Sangat hebat bukan?
Aku senyum-senyum sambil berjalan kembali ke tempat pengajian. Aku terlalu senang sampai lupa kalau aku tadi melihat penjahat itu. Meski hanya punggungnya.
Aku jadi sedikit mengesampingkan soal kekacauan sekolah. Aku sedang kasmaran karena no hp. Meski begitu sudah dua hari aku tidak menggunakan no Andi untuk sms atau menelponnya. Mana mungkin aku sms kalau tidak dalam keadaan darurat. Bisa-bisa dia akan menganggapku hanya mengganggu dan tidak tahu diri. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Dukk. Brukk.
“Aduh!” aku terjatuh setelah menabrak seseorang di lorong dekat perpus.
“Ah, maaf. Aku sedang buru-buru.” Orang yang menabrakku berusan membantuku berdiri.
“Iya tidak apa-apa.” Aku membersihkan rokku. Aku mengamati pria tampan ini. Siapa ya?
“Sampai jumpa!” dia segera pergi.
“Dasar aneh.” Ujarku sambil membuang nafas.
Aku hendak melangkah namun sepatuku menginjak sesuatu. Aku mengambil benda yang tak lain adalah sebuah hp. Hp anak tadi? Persis dengan punyaku.
“Eh, tapi hpku tidak ada.” Aku mencari hpku sendiri tapi tidak kutemukan. Kemana hpku? Jangan-jangan tertukar dengan orang tadi.
“Mencari apa?” tanya Andi yang muncul dengan gerombolan cewek-cewek.
“Anu..”
“Ayo Andi cepat! Katanya mau memeriksa ruang musik. Ada bunyi aneh disana. Ayo cepat!!” ujar para kakak kelas yang pada ganjen ini.
“Iya baiklah.” Andi nampak malas.
“Ngapain sih nanggapin anak ini.”
Aku jadi sebal sendiri melihat Andi dikerumuni cewek-cewek itu. Aku juga mau tahu.
“Daripada itu aku harus mencari anak tadi. Atau aku telpon no hpku saja.” Aku punya ide yang cemerlang.
Dengan cepat aku menekan no ku. Tak lama diangkat oleh cowok tadi. Mungkin saja.
“Ah, maaf sepertinya hp kita tertukar ya.” Ujarku memulai.
“Oh, iya. Maaf ya aku salah ambil. Hp kita kan sama bentuknya.” Ujarnya diseberang.
“Mau ketemu dimana?” tanyaku.
“Ah, bisakah kau kemari? Aku sedang di lab. Bahasa.”
“Ya, baiklah. Aku kesana.” Aku menutup telepon.

to be continued...........

Love Security

Love Security

BAB 1 “YOUNG SECURITY”
Akhir-akhir ini banyak kabar miring yang beredar tentang sekolahku, SMA 7 General. Banyak isu yang mengatakan kalau ada penjahat yang menyamar menjadi siswa di sini. Lalu ada juga yang bilang kalau ada BOM di sekolahku ini dan masih banyak lagi. Semua ini membuat aktifitas belajar mengajar menjadi kocar-kacir tidak karuan. Membuat anak-anak yang membandel jadi bersuka cita karena kepanikan dan kelebaiyan para guru dan muridnya sendiri. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan keadaan seperti ini. Bagaimana tidak? Susah-susah aku masuk ke sekolah ini dengan perjuangan panjang dan penuh rintangan. Belum juga genap satu semester aku senang disini, muncul banyak gosip aneh yang menyusahkan. Aku benci penyebar gosip seperti orang yang menyebar gosip tentang sekolah tercintaku ini. Payah.
Bukan itu saja yang menyita perhatianku. Namun ada yang lebih menarik dari semua itu. Ini menyangkut perasaan wanita. Dalam kehebohan besar yang melanda sekolahku malah muncul seorang security baru yang menyegarkan mata. Seorang pria muda dengan badan atletis nan gagah perkasa menjelma menjadi satpam baru di sekolahku. Wajahnya yang tampan langsung mengundang banyak pasang mata tertuju padanya. Auranya yang gentlemen sudah mengalahkan para artis boyband korea. Aku  juga gadis normal yang tahu cowok ganteng di depanku ini. Baru kali ini ada security muda di sekolah.
“Andiii!!!!”
Aku oleng disambar angin dari para gadis yang berlari ke arah Andi, security muda yang menggugah selera. Dia menjadi artis dadakan. Huft.
“Andi tolong dong!!!”
“Tadi aku melihat sesuatu di toilet cewek!”
“Ah..iya iya.” Andi menanggapi dengan santai.
Aku hanya bisa melihat dari jauh saja. Sejak dia jadi security baru di sini gosip-gosip itu mulai agak mereda. Tapi tetap saja sekolah dalam kondisi waspada. Masih ada polisi yang datang berkunjung tiap harinya.
Aku segera berjalan pelan masuk kelasku. Ya aku mungkin agak sedikit merasakan kecewa karena aku sama sekali tidak bisa bicara dengan Andi. Padahal aku juga mau seperti gadis-gadis itu yang bisa dengan terang-terangan datang dan mengagumi Andi. Tapi aku tidak bisa jadi seperti mereka. Aku harus konsentrasi pada sekolahku yang kacau ini. Tapi aku memikirkannya.
“Kok bisa sih security baru itu mengalihkan dunia.” Anak-anak cowok di kelas sekarang giliran menggosip.
“Ya, gimana lagi dia kan keren.”
“Tapi masak cewek-cewek ngefans sama dia semua. Kita kan jadi tergeser. Bahkan cewek yang kutaksir pun nyangkut digerombolan fannya.”
“Kalau begini kita tidak boleh membiarkannya. Kita beri peringatan padanya.”
“Ya ya.”
Kenapa situasinya jadi seperti akan melakukan demo saja. Aku hanya bisa geleng-geleng. Bisa-bisanya mereka melupakan gosip BOM yang akan meledak dua minggu lagi itu. Ternyata awalnya saja mereka heboh dan panik pada BOM itu.
“Mereka semua jadi gila karena Andi.” Martha tertawa kecil.
“Demam Andi.” Timpalku.
“Kamu gak ikutan jadi fan Andi, Mit?” tanya Martha.
“Kamu sendiri?” aku mengalihkan pembicaraan. Martha pasti akan menertawakanku kalau kubilang aku naksir Andi juga.
“Aku kan sudah punya pacar jadi tidak mungkin. Kalau kamu tidak apa-apa kan masih jomblo. Lumayan dia kan oke punya.” Ujar Martha.
“.....” aku senyum saja.
Lagi-lagi KBM tidak efektif. Aku benci kalau begini. Dasar BOM sialan.
“Kenapa sekolah jadi seperti kebun binatang begini?” aku mengamati anak-anak yang berkeliaran disaat seharusnya jam pelajaran.
“Jadi binatangnya bisa ngomong ya?”
Aku menoleh. Siapa gerangan yang mendengar unek-unekku.
“Hah?!” aku terperanjat.
“Halo!” sapanya.”Ternyata kamu termasuk binatang yang pintar ya mau ke perpustakaan.” Ujar Andi.
Aku menjadi kaku-kaku. Bukan karena aku dibilang binatang tapi karena Andi. Dia bicara padaku. Tanpa aku harus bergerombol menyerbunya di pos depan.
“Kenapa diam saja? Kau marah ya?” ujar Andi lagi.
“Ah, apa?” aku tersadar.”Kau kan harus berjaga kenapa malah ada di perpus?” ujarku dengan nada kesal padahal aku senang sekali bisa bicara dengan Andi.
“Sttsst. Jangan keras-keras! Kalau ketahuan nanti aku dimarahi Pak Hamdan.”
“Jadi kau sedang bolos kerja ya?” ujarku tambah keras.
Andi membungkam mulutku.
“Diamlah anak manis. Aku tidak sedang bolos. Kalau kau diam aku akan memberimu permen. Aduh..”
Aku menggigit jari Andi.
“Permen katamu? Aku ini sudah besar aku tidak level dengan permen.” Aku mengancam
“Dasar anak ini. Dia gigit pakai taring apa ya.” Batin Andi kesakitan.
“Daripada kau bolos kerja lebih baik bantu para polisi untuk menemukan Bom sialan itu agar aku bisa cepat belajar seperti sedia kala.” Ujarku dengan ekspresi kecewa padahal dalam hati aku senang bisa begini dengan Andi.
Andi tidak membalas perkataanku. Dia terdiam. Mungkin dia menyadari kesalahannya.
“Maaf ya aku memang hanya security.” Andi nampak lesu.
“Aku sudah keterlaluan.” Batinku agak menyesal. Tapi beda sekali dengan ucapan mulutku, “Dasar security tidak berguna. Kerjanya sama sekali tidak becus. Tiap hari hanya menggoda para siswi. Kesana kemari memamerkan tampang! Kau kan bukan artis!”
Entah bagaimana aku bisa merangkai kata-kata sekejam itu. Tak kusangka bisa-bisanya hati dan mulutku bicara berlainan. Ah sudahlah mungkin aku terlalu senang dengan semua ini. Pada dasarnya aku memang payah dalam hal beginian.
Aku mengambil tasku dan segera meninggalkan Andi yang masih terdiam terpaku sambil memandang kepergianku.
“Drztt Drztt Drztt Drztt.” Andi mengambil hp di saku celananya. Dilihat siapa yang memanggil dan diangkatnya dengan malas.
“Andiiiiii!!!!” suara dari seberang sana yang menelpon. Andi menjauhkan hp dari telinganya.
“Tidak perlu berteriak-teriak kan?” ujar Andi.
“Bagaimana aku tidak teriak-teriak. Kau sama sekali tidak melapor perkembangan penyelidikan ini. Waktumu tidak banyak disitu. Segera temukan dan hancurkan. Keselamatan semua tergantung padamu dan juga nama baik lembaga kita.”
“Tut Tut Tut Tut Tut Tut.”
Andi tidak bereaksi apa-apa. Dia menghela nafas sambil memasukkan kembali hpnya ke dalam saku celananya.
“Apanya yang mau ditemukan. Belum ada apa-apa disini.”gumam Andi sendiri.
Aku menyesal. Aku menyesal. Aku menyesal. Ribuan kalipun aku mengatakannya itu tidak akan mengubah apa yang sudah kulontarkan pada Andi di perpus tadi. Kesan pertama yang sangat buruk. Aku tidak mau membayangkan kesan kedua. Aku juga terlalu berlebihan kenapa malah marah pada security sekolah. Mencari Bom itu kan tugas para polisi dan teman-temannya. Sebaiknya kulupakan saja semua. Pulang saja.
Keesokan paginya aku tidak berani lewat gerbang depan. Aku tidak mau melihat ataupun terlihat oleh Andi. Meski awalnya juga aku tidak bisa kelihatan olehnya. Sekali-kali aku mau menjadi murid nakal saja. Kayaknya asik juga kalau melompat pagar.
Aku tengak-tengok  kanan kiri. Aman. Aku langsung melempar tasku duluan. Kemudian aku segera naik pagar tembok yang tidak terlalu tinggi ini.
“Huft.” Aku mendarat dengan aman. “Lumayan juga untuk pemula seperti aku.”
“Ya lumayan juga. Merah jambu!”
“Apa?!” aku menoleh dan sudah ada Andi yang berdiri sambil menenteng tasku. Aku berkeringat dingin. Dia juga bilang merah jambu. Kurang ajar dia melihatnya.
“Tidak bisa lewat jalan biasa ya? Tidak pernah sekolah ya?”
“Sial aku tidak bisa membalasnya.” Batinku menggerutu. Aku menggigit bibirku sambil melototi Andi.
“Diam artinya benar.” andi tersenyum licik. Dia membalasku. Niatku mau menghindarinya malah ketemu di sini.
“Itu urusanku. Jangan menceramahiku! Kembalikan tasku!” mintaku.
“Tidak akan kukembalikan. Lagipula disaat sekolahmu sedang bahaya begini seharusnya kau belajar dengan baik dan berusaha tetap pada jalan yang benar. bagaimana kalau ini terakhir kalinya kau belajar di sekolahmu ini.”
“Kalau itu yang terjadi maka orang pertama yang perlu disalahkan adalah kau!” aku berlari kearah Andi. Aku pakai cara kasar saja. Aku mengepalkan tanganku. Aku akan memukulnya dengan kuat.
“Eh?” Andi menangkap tanganku.”Gadis kecil mau melawan Security.” Andi menahan tanganku ke balik badanku.
“Aw aw aw..” aku meringis kesakitan.
“Belajar sopan santun itu lebih baik untukmu.” Ujarnya berbisik di dekat telingaku.
Aku tidak pernah menduga akan terjadi hal seperti ini. Aku langsung lemas begitu Andi melepaskan tanganku. Aku terduduk dirumput-rumput sambil membisu.
“Dah Mita. Akan kubawakan bom itu khusus untukmu.” Andi tersenyum sembari meninggalkanku.
Dia gentleman. Dia memegang tanganku. Berbisik ditelingaku. Ini kepahitan awal yang indah. Meski Andi berpikir buruk tentangku.
“Huft payah.” Aku mengambil tasku. Tidak kusangka dia tahu namaku.“Eh?” aku menemukan sesuatu dibawah tasku. Dompet. Aku tolah toleh tidak ada orang. Mungkin dompet Andi. Aku tersenyum usil dan tanganku mulai membuka dompet itu. Pelan-pelan.

to be continued......