BAB 2 “TRUE IDENTITY”
“Ah..” aku tersenyum kecut begitu melihat tanda identitas
diri dalan dompet Andi. Ada foto Andi disitu. Dan juga lencana ‘polisi’. Andi Sheet.
Jabatan: Inspektur Polisi
“Dia detektif...” aku diam sambil memandangi foto Andi. Lahir
tahun 1985. Kenapa aku malah melihat tahun kelahirannya? Dia kan hanya Security
yang lagi ngetrend di sekolahku yang kacau ini. Tidak mungkin.
Andi merogoh sakunya. Dia agak bingung karena tidak
menemukan yang dia cari. Dia mencari disemua lubang sakunya.
“Kenapa Andi?” tanya Pak Hendro seorang senior security
di sekolahku.
“Dompetku tidak ada pak.” Andi kelihatan tegang dan
bingung.
“Hilang ya? Wah bahaya itu. Gawat kalau duitmu banyak dan
ditemukan anak-anak. Pasti diambil ludes sama mereka.” Ujar Pak Hendro.
“Masa sekolah elit begini masih doyan sama dompet jatuh?
Tapi bukan itu yang aku khawatirkan.” Andi teringat sesuatu yang terjadi
barusan. “Mungkin jatuh disana.” Andi langsung berlari dengan cepat.
“Oh sudah ingat ya.” Gumam Pak Hendro santai.
Aku tersadar dari lamunanku begitu merasakan langkah kaki
yang berlari ke arahku. Aku menutup dompet Andi sambil menghela nafas.
Sebaiknya apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Gawat.” Gumam Andi dengan nafas terengal-sengal.”Mita!”
Andi menegurku.
“Iya.” Jawabku spontan.”Darimana kau tahu namaku?”
tanyaku dengan nada datar.
“Kau melihat dompetku?” tanya Andi tanpa menjawab
pertanyaanku.
“Iya.” Aku segera berdiri dan menghampiri Andi. Aku
menyodorkan dompet Andi.
Andi menerimanya.
“Aku yakin kau sudah melihatnya. Jadi bisakah kau
merahasiakan ini dari siapapun?”
“Iya aku sudah melihatnya. Fotomu waktu muda lumayan
juga.” Aku masih datar-datar saja tanpa emosi.
“Maksudku bukan itu.” Andi nampak kesal.
“Iya aku tahu.” Jawabku dengan nada yang sama.
“Sebaiknya kau jangan pura-pura bodoh Mita. Apapun yang
kau lakukan sekarang menjadi ancaman bagiku. Dan juga itu akan berbahaya bagimu
karena sudah mengetahui identitasku. Atau kau ingin pura-pura tidak tahu. Itu
juga boleh kalau itu lebih baik.” Andi sepertinya tidak suka dengan sikapku.
Aku tidak percaya aku mengetahui rahasia si security
sekolah. Padahal kemarin aku hampir putus asa karena sejengkal pun tak bisa
mendekat padanya. Lalu kejadian ajaib ini terjadi padaku. Tuhan tahu mana
hambanya yang butuh pertolongan. Ini adalah rahasia yang manis. Tapi aku tidak
boleh lengah. Aku akan tetap jadi Mita yang kemarin marah-marah padanya. Aku
juga hampir tidak percaya Andi tahu namaku. Ini sangat luar biasa.
“Tapi untuk apa ya Andi menyamar jadi security segala?
Apa untuk mencari bom itu? Apapun itu dia sangat keren dan hanya aku yang tahu
identitas aslinya. Aku akan semakin dekat dengan Andi. Duh senangnya aku.” Aku
cengengesan sambil membayangkan hari-hari menyenangkan bersama Andi.
“Tidak biasanya kamu cuek pada pelajaran yang agak full
ini, Mit?” tanya Martha heran.
“Iya aku agak sedang hehe.” Aku tidak mau memberitahu
Martha sebab musabab yang terjadi padaku.
“Apa?” Martha melihat dengan tambah heran.
“Aku sedang senang.” Jawabku sambil senyum-senyum.
“Sekolah kita akan kena bom kamu malah senang? Padahal
kemarin saja kamu sangat prihatin pada sekolah kita. Nanti sore ada pengajian
lho di sekolah. Jangan sampai enggak datang.” Ujar Martha.
“Gawat juga kalau pas kita doa bersama bomnya meledak.”
Aku menakut-nakuti Martha.
“Kok doamu tidak mengenakkan perasaan sih.” Martha
cemberut.”Pokoknya nanti kamu harus datang ya.”
“Iya aku tahu. Kan aku pengen bom itu cepat musnah.”
Ujarku.
Beda dengan bayanganku yang berharap akan semakin dekat
dengan Andi setelah aku mengetahui identitas Andi. Sekarang aku sama sekali
tidak melihat batang hidungnya. Bahkan dia tidak bingung karena aku tahu
identitasnya. Biasanya kalau difilm-film dia akan mengancamku macam-macam kan?
Tapi kok yang ini beda sekali. Bahkan sampai pulang sekolah pun dia tidak
kelihatan.
“Leatin apa sih? Buruan pulang.” Martha menarik tudung
jaketku.
“Aduh iya iya.” Aku terpaksa meninggalkan gerbang
sekolah. Aku harap Andi ada disitu dan melihatku. Aku sebal dia tidak takut aku
membocorkan rahasianya.
Jam lima sore aku sampai di sekolah. Halaman sekolah
nampak sepi-sepi saja. Tidak ada seorang muridpun yang berada disekolah ini.
Anak-anak kok bisa sih mengabaikan acara pengajian ini. Ya ampun padahal pak
ustad sudah siap sedia.
“Masa yang peduli pada nasib sekolah ini hanya aku
seorang sih? Martha juga tidak kelihatan.” Aku berjalan ke pos security.
“Rajin sekali sudah datang.”
Aku tidak jadi masuk pos security. Aku membalikkan badan.
“Mencariku ya?” Andi sudah berdiri di depanku.
“Pede sekali.” Aku berjalan melewati Andi.
“Mau bicara denganku. Sepertinya kau bisa jadi partner
yang bagus meski sebenarnya itu tidak perlu.” Andi mempermainkanku.
Aku tidak marah. Aku senang bisa bicara dengan Andi lagi.
“Sebaiknya daripada bicara tidak karuan, segeralah
temukan bom itu. Tidak perlu lama-lama cosplay di sini.” Aku melirik Andi.
“Merah jambu yang bawel.” Ujar Andi pelan,”Waktu aku muda
aku tidak sebawel dirimu. Cosplay katanya. Haha.” Andi senyum-senyum sendiri.
“Kenapa kau tidak mengancam ku untuk tidak menyebarkan
identitasmu, Andi?”
“Itu tidak perlu. Karena gadis yang pintar tahu apa yang
sebaiknya dilakukan saat seperti ini. Kamu gadis yang pintar kan?”
“Tentu saja.” Aku segera beranjak pergi.
“Manis juga anak itu dengan kerudung merah jambunya.
Kasihan sekolahnya harus jadi ladang ranjau.” Gumam Andi sambil mengamati
jalanku.
Aku mengambil duduk paling depan. Bebas memilih karena
belum seorang pun yang datang. Aku kecewa pada teman-temanku.
“Huft.” Seorang gadis mengambil duduk disebelahku. Dia
menepuk bahuku.
“Martha? Kukira kau tidak datang juga.” Ujarku. Martha
cantik memakai kerudung biru muda.
“Aku kan peduli dengan sekolah kita. Kalaupun bom itu
akan diledakkan hari ini dan kita yang ada disini akan mati. Aku tidak akan
menyesal. Setidaknya Tuhan tahu aku mati dalam keadaan yang bersih.”
“Jangan-jangan anak-anak tidak mau datang karena mereka
takut bom itu akan diledakkan saat kita pengajian ya?” simpulku.
“Ya mau gimana lagi, mereka semua pengecut kan?” Martha
meluruskan kakinya.
“Benar juga. Polisi-polisi itu juga sama sekali tidak
membantu. Percuma mereka hanya jalan-jalan saja.” Timpalku.
“Sebegitu bencinya sama polisi ya?”
Andi duduk disebelahku. Dia senyum-senyum dengan santai.
“Heh,Mit.” Martha menarik kerudungku. Dia berbisik
ditelingaku.”Sejak kapan kau akrab dengan Andi? Jangan-jangan kalian..”
“Tidak seperti bayanganmu Martha.” Balasku berbisik juga.
“Kalian berbisik membicarakanku ya? Apa kalian malu duduk
dengan security?” tanya Andi.
“Ah, tidak bukan begitu.” Aku dengan reflek membantah
ucapannya. Dasar bodoh tentu saja aku senang akhirnya kau mau dekat denganku.
“Hm..”
“Hei Andi!” seru Martha.
“Ya?”
“Kau kan masih muda, kenapa malah jadi security?” tanya
Martha.
“Karena aku ingin.”
“Dasar pembohong. Kau kan sedang menyamar.” Batinku ikut
menjawab.
“Kau kan keren. Lebih cocok jadi model saja. Atau jadi
polisi saja.” Ujar Martha.
“Ya boleh juga. Tuh teman-teman kalian sudah datang. Aku
harus pergi.” Andi berdiri dan segera pergi.
“Ternyata kau memang suka padanya ya.” Ujar Martha
membuyarkan pandanganku ke Andi.
“Sepertinya sedikit benar. Tapi juga sedikit salah.
Lupakan itu. Aku akan berdoa dengan sungguh-sungguh.” Aku mengalihkan
pembicaraan.
Setelah magrib baru pengajiannya dimulai. Padahal aku
sudah dari jam lima disini dengan Martha. Ternyata bukannya anak-anak yang
pengecut tapi karena jam terbangnya jam 6. Tapi meski begitu tetap saja yang
datang cuma sedikit.
Ditengah-tengah acara aku kebelet pipis. Aku segera
keluar dari barisan dan berlari kecil ke toilet. Mana lumayan gelap lagi.
“Ah lega.” Aku membenarkan kerudungku di depan cermin.
Sayup-sayup kudengar ada yang bicara diluar toilet. Aku mengendap-endap melihat
siapa.
“Cuma sedikit yang datang. Kurasa sekarang bukan waktu
yang tepat. Hanya tinggal pencet saja kan? iya iya. Biarkan saja mereka terus
mencari. Haha benar-benar.”
Aku melihat seorang laki-laki yang membelakangiku sedang
menelpon. Apa dia penjahatnya? Didengar dari percakapannya sepertinya dia
membicarakan soal bom. Aku merinding. Gawat ini gawat. Aku harus memberitahu
Andi.
“...benar sekali. Aku juga setuju dengan itu. Aku jadi
penasaran berapa banyak yang akan mati dalam tragedi ini. Uji coba ini lumayan
menyakitkan ya.”
Apa? Teriakku dalam batin. Kejam sekali orang itu. Kalau
saja aku bisa melihat wajahnya. Mungkin aku harus lebih dekat.
“Jangan.” Seseorang menarik tanganku.
“Andi?” aku tidak jadi melangkah. Tiba-tiba Andi sudah di
sini. Inikan toilet cewek.
“Ayo pergi!” ajak Andi.
Andi membawaku ke kelas depan lab.Fisika. jauh dari
toilet dan juga lapangan tempat pengajian yang sedang berlangsung. Andi agak
tegang kelihatannya. Aku tidak berani memulai pembicaraan.
“Mita.” Andi memanggilku.
“I,iya.” Aku agak terkejut.
“Apa kau mengenali orang tadi?” tanya Andi.
“Aku hanya melihat punggungnya saja. Kalau melihat
bajunya sih kayaknya dia pakai jaket hitam. Lagipula tadi kan gelap.” Jawabku.
“Ini sangat gawat. Dia sudah lama diantara kalian semua.
Sulit mencari tahu keberadaannya kalau Cuma lihat punggungnya.” Ujar Andi.
“Ya cari saja orang yang pakai jaket hitam malam ini. Aku
akan bantu mencarinya. Lagipula aku sedikit mengenali suaranya.” Ujarku.
“Ide yang bagus. Kemarikan hapemu!”
“Apa?HP?” aku terkejut lagi. Tapi aku segera mengeluarkan
hpku dan kuserahkan pada Andi.
Andi mengutak-atik hpku.
“Ini nomorku. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.” Andi
mengembalikan hpku.
“A,a baik.” Aku gemetaran memegang hpku. Aku mendapatkan
no hp Andi tanpa aku yang memintanya. Keajaiban yang luar biasa. Sangat hebat
bukan?
Aku senyum-senyum sambil berjalan kembali ke tempat
pengajian. Aku terlalu senang sampai lupa kalau aku tadi melihat penjahat itu.
Meski hanya punggungnya.
Aku jadi sedikit mengesampingkan soal kekacauan sekolah.
Aku sedang kasmaran karena no hp. Meski begitu sudah dua hari aku tidak
menggunakan no Andi untuk sms atau menelponnya. Mana mungkin aku sms kalau
tidak dalam keadaan darurat. Bisa-bisa dia akan menganggapku hanya mengganggu
dan tidak tahu diri. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Dukk. Brukk.
“Aduh!” aku terjatuh setelah menabrak seseorang di lorong
dekat perpus.
“Ah, maaf. Aku sedang buru-buru.” Orang yang menabrakku
berusan membantuku berdiri.
“Iya tidak apa-apa.” Aku membersihkan rokku. Aku
mengamati pria tampan ini. Siapa ya?
“Sampai jumpa!” dia segera pergi.
“Dasar aneh.” Ujarku sambil membuang nafas.
Aku hendak melangkah namun sepatuku menginjak sesuatu.
Aku mengambil benda yang tak lain adalah sebuah hp. Hp anak tadi? Persis dengan
punyaku.
“Eh, tapi hpku tidak ada.” Aku mencari hpku sendiri tapi
tidak kutemukan. Kemana hpku? Jangan-jangan tertukar dengan orang tadi.
“Mencari apa?” tanya Andi yang muncul dengan gerombolan
cewek-cewek.
“Anu..”
“Ayo Andi cepat! Katanya mau memeriksa ruang musik. Ada
bunyi aneh disana. Ayo cepat!!” ujar para kakak kelas yang pada ganjen ini.
“Iya baiklah.” Andi nampak malas.
“Ngapain sih nanggapin anak ini.”
Aku jadi sebal sendiri melihat Andi dikerumuni
cewek-cewek itu. Aku juga mau tahu.
“Daripada itu aku harus mencari anak tadi. Atau aku
telpon no hpku saja.” Aku punya ide yang cemerlang.
Dengan cepat aku menekan no ku. Tak lama diangkat oleh
cowok tadi. Mungkin saja.
“Ah, maaf sepertinya hp kita tertukar ya.” Ujarku
memulai.
“Oh, iya. Maaf ya aku salah ambil. Hp kita kan sama
bentuknya.” Ujarnya diseberang.
“Mau ketemu dimana?” tanyaku.
“Ah, bisakah kau kemari? Aku sedang di lab. Bahasa.”
“Ya, baiklah. Aku kesana.” Aku menutup telepon.
to be continued...........
